Yudha

Kulihat tubuhnya sangat bersih dan selalu berpakaian rapi. Setiap pagi dia lintas di depan rumahku, dengan langkahnya kelihatan pasti. Satu-satu dan tatapan wajahnya ke depan, membuat wibawanya mengalahkan usianya yang 16 tahun.
Yudha, demikian aku mendengar namanya dipangil oleh teman-temannya. Sebagai warga baru, tentu aku tidak terlalu hafal nama-nama anak muda di sana. Tapi Yudha mengalahkan hatiku. Aku ingin tau siapa dia dan ketampanannya membuatku langsung tergila-gila padanya.
Yudha seorang pemuda yang sangat kalm dan tidak suka banyak omong. Usiaku yang sudah 49 tahun, seakan bangkit ingin menggodanya. Sudah empat tahun aku menjanda. Dalam hatiku bertanya, salahkan aku bila aku mencintai Yudha yang jauh lebih muda dari usia anak bungsuku? Berdosakan aku kepada almarhum suamiku, bila aku menginginkannya memenuhi keinginan seks ku yang bangkit kembali?
Aku menjawabnya sendiri...Tidak.

"Sore asekai pulangnya nak Yudha?" sapaku lembut, takut di dengar orang-orang. Yudha menolehku dan melemparkan senyumnya. Amboiii, manis sekali. Setelah beberapa langskah dia meninggalkanku, dia kembali menolehku ke belakang dan mata kami beradu. Aku tersenyum. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku mengedipkan mataku kepadanya. Dia tersenyum dan tersipu. Semoga dai tidak bercerita kepada sesiapa. Aku warga baru janda dan tinggal sendiri di rumahku.

Pot bunga yang sudah kutata rapi, kusirami. AKu sudah mandi dan memakai dasterku yang tipis dan berharap Yudha akan lewat lagi di depanku. Ah...mimpi apa aku. Yang kuinginkan, ternayata jadi kenyataan.
Mau kemana nak Yudha, sapaku diiringi senyumku. Orang bilang sih, sentyumku manis sekali dengan sebaris gigi putih yang menjadi andalanku.
"Mau jalan saja ke warung," tante, katanya.
"Boleh tante nitip. Kalau nak Yudha tidak keberatan," tanyaku.
"Boleh tante," katanya santun. AKu mengatakan, kalau aku kau dibelikan sebotol coca cola ukuran 1 liter. Aku memintanya menunggu agar aku ambilkan uangku. Dalam diam, Yudha ternyata mencuri pandang ke arah tetekku dengan bra ku yang tipis. Aku emmang merawatnya dan sesekali aku memberinya suntikan silicon agar dia tetap kencang. Aku sengaja menundukkan tubuhku, agar buah dadaku terlihat dari leher dasterku yang lebar. Benar saja, Yudha menatapnya malu-malu.
Aku masuk ke rumah dan mempersilahkan Yudha untuk ikut ke dalam. Dadaku sudah gemetar sejak tadi. Paginaku sudah mendenyut-denyut. Aku sudah libido sekali.
Yudha mengikutiku dari belakang dan ikut masuk ke dalam rumahku. Kulihat, ketika kami masuk rumah, tak seorangpun ada melihatnya. AKu yakin, kondisi sangat aman. Dadaku terus semakin kencang deebaranya. Mengemuruh dan aku sudah tak mampu menguasai diriku.
Begitu Yudha melintasi pintu, segera pintu kututup dan menguncinya. Yudha kelihatan gugup, tapi dia diam saja.
Kupeluk Yudha dan mencium pipinya., Tentu saja si tampan itu gelagapan.
"Tanteee..?"
"Tenang saja. Tak seorang ada di rumah ini. Kamu tampan sekali. Tante akan mengajarimu menjadi seoang yang dewasa, "kataku. Kucium bibirnya dan aku mengelus-elus penisnya dari balik celananya.
"Tante..." katanya perlahan. Aku merasakan tengkuknya merinding. Dari sana aku mengerti, kalau Yudha-ku belum pernah merasakan seks secara langsung.

"Tante percaya, kalau kamu ini seorang laki-laki," pujiku. Ku ajak dia ke kamar tidurku. Dia diam saja. Kutarik tangannya dengan kuat dan cepat. Sesampai di kamar tidur, aku memeluknya kembali.
"Tante ingin buktikan kalau kamu seorabng laki-laki gagah dan perkasa," kataku. Dia diam. Kulilitkan kedua tangannya di tengkukku untuk memelukku. AKu mulai mengerjai semua daerah sensitifnya. Lehernya, dan terus meraba-raba penisnya.

Kubuka seluruh pakaiannya dan kutelentangkan dia di tempat tidur. Dala telanjang bulat, aku melihat Yudha seperti kebingungan. Penisnya sudah tegak berdiri, tapi dia tidak tahu melakukan apa. Aku terus membimbingnya. Remaja ini, harus terus dipuji dan dipuja, membuat dia merasa bangga dan percaya diri. Langsung saja aku memasukkan penisnya itu ke dalam mulutku. Aku mengulum dan mengisap-isapnya. Setelah aku puas, aku langsung membuika pakaianku sampai aku telanjang bulat dan mengangkanginya, lalu memasukkan penisnya ke dalam paginaku. AKu menggoyangnya. Baru beberapa kali aku menggoyangnya, Yudha sudah memelukku kuat-kuat dan mengerang dahsyat. Terasa olehku, semprotan dari penisnya. Sebanarnya aku sangat kecewa, karean aku belum apa-apa, tapi Yudha sudah orgasme. Aku butuh waktu untuk semuanya bisa berjalan lancar.

"Bagaimana anak gagah. Kamu menikmatinya," tanyaku.
"Nikmat sekali tante. Maafkan aku sudah menyetubuhimu," katanya polos. Aku mengatakan, justru aku juga berterimakasih padanya. Aku mengatakan, kapan saja Yudha mau, aku siap melayanimu asal mampu menjaga rahasia dan menjaga waktu masuk ke rumah harus dalam keadaan aman. Kalau tidak, kamu pasti akan digebuki massa, karean menyetubuhi seorang janda, kataku.

"Iya tante. Yudah ingat pesan tante," katanya.
AKu memakai pakaianku setelah kami membersihkan diri ke kamar mandi. AKu keluar lebih dulu saat azan mahgrib berkumandang dari mesjid. Semua orang mengunci pintu. Setelah aku yakin aman, Yusha kulambai dan dia mengerti untuk keluar dari rumah. Aku bahagia sekali, bisa mendapatklan Yudha dengan mudah.

Tiga hari setelah itu, Yuhda melintas di depan rumahku. Dia mengedipkan matanya. AKu sudah mengertio maksudnya. Dia pasti ketagihan dan ingin tau lebih banyak lagi soal seks. AKu yakin sekali itu. Aku memberi kode, agar masuk dari dapur saja. Aku keluar dari rumah dan mengikutinya dari belakang. Di tikungan dekat kedai, aku mengatakan, pintu belakang tertutup, tapi tidak dikunci. Kalau aman, masuk saja, kataku. AKu langsung ke kedai berpura-pura membeli mancis. AKu dengan cepat kembali pulabng ke rumahku setelah berpapsan dengan berteguran dengan ibu-ibu tentangga. Langsung kukunci pintu rumah dan aku menuju ke dapur dan membuka kunci pintu. Aku sudah siap dengan daster miniku, tanpa bra dan celana dalam. Baru saja aku berniat mau melihat Yudha ke depan, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Yuhda datang dengan celana pendek dan baju kaos. Setelah pintu tertutup dan kupastikan pintyu terkunci rapat, aku bertanya.
"Aman tante. Tidak ada yang melihat," katanya.
"Anak pintar kataku dan langsung memeluknya. Bibirku kuarahkan untuk mengecup bibirnya. Perlahan aku melepaskan dasterku hingga aku telanjang bulat di hadapannya. Kini dia bebas melihat semuanya. Kupreteli pakaiannya. Kini Yudha juga sudah telanjang bulat dihadapanku.

"Kamu pernah nonton BF, sayang.." kataku.
Yudha mengangguk.
"Sekarang, perlakukan aku seperti apa yang Yudah inginkan. Silahkan.." pintaku. Yudha memelukku dan meremas-remas buah dadaku. Aku menikmatinya. Dia juga mengelus-elus paginaku. Berbagai cara dia perlakukan aku. Menjiolati leherku, mengisap-isap dadaku. menjilati paginaku dan banyak lagi. AKu seperti diperlakukan sebagai eksperimennya. Aku tak perduli. AKu menikmatinya dengan baik. Sampai setelah dia puas, dia menidurkanku di lantai dapur dan menindihkku. AKu tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Paginaku yang sudah ngences, menanti penisnya. Kutuntun batang yang sederhana besar dan panjangnya itu ke dalam paginaku. Yudah mulai memompaku sampa aku merasakan nikmat.

Kali ini, dia tidak seperti awalnya. Yudha sudah mampu bertahan sedikit lebih lama. AKu tahu dia sebagai pemula, harus segera kuakhiri. Aku harus bisa sampai lebih awal dari Yudha. AKu mengarahkan penisnya di dalam paginaku ke tempat-tempat yang kuinginkan, agar aku bisa sampai. Baru saja aku mau sampai, Yudha sudah memelukku kuat-kuat dan menyemprotkan spermanya yang hangat. Aku menekan pantatnya jauh ke dalam paginaku dan menahannya. AKu terus menekannya, jangan sampai penis itu kuyu sebelum aku sampai. AKhirnya aku sampai juga.
Lagi-lagi aku memujinya, kalau dia laki-laki perkasa, hebat dan kuat. Dia tersenyum bangga. Setelah lebih dari lima kali kami bersetubuh, akhirnya Yudha semakin pintar. AKu terus bersetubuh dengannya, sampai dia taman SMA dan kini sudah pindah kuliah ke Jakarta.
Kini aku juga sudah ikut dengan anakku yang tertua di Bali. Sejak itu aku tak pernah ketemu Yudah lagi dan hubungan kami sudah terputus.

Blog, Updated at: 08.53

0 komentar:

Poskan Komentar

Paling Populer

Daftar isi