Menunggu kesempatan

Tak dapat kupungkiri, kalau lelaki ABG tetanggaku itu adalah seorang pemuda yang bertubuh atletis. AKu yakin dengan seringnya dia berolahraga, maka segala sesuatunya pasti dalam keadaan baik. Keyakinanku, karena aku meluihat otot-otot tubuhnya yang demikian sempurna, walau usianya masih 17 tahun. Tapi bagaimana caranya aku bisa mendapatkan kepuasan seksual darinya? Sementara suamiku sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi? Anak-anakku ke empatnya sudah menikah dan aku masih sangat membutuhkan seks. Apa yang harus kulakukan?

Bayu, demikian namanya. Senyumnya sangat manis sekali. Aku yang sudah berusia 49 tahun jadi semakin emnggebu ingin bersetubuh dengannya. Aku terus berpikir keras, apa yang harus kulakukan, agar aku bisa dekat dengannya, tanpa dicurigai oleh sesiapa, terlebih kedua orangtuanya adalah sahabat dekatku. Aku terus mencari jalan. Sampai suatu ketika aku diundang oleh ibu Andika, demikian aku memanggil ibunya Bayu yang usianya persis sama denganku. Aku yang merawat tubuhku dengan baik, tentu kelihatan lebih sintal dari Bu Andika. Begitu aku duduk di teras rumah mereka, tiba-tiba Bayu masuk dan memberi salam kepada kami, lalu ibu nya menyuruh Bayu untuk menyalamiku. Dengan malu-malu Bayu mendatangiku, persis ketika ibunya membetulkan letak pot bunga. Saat itu aku menyalaminya dan aku mempermainkan jari telunjukku di telapak tangannya. ENtah darimana datangnya keberanianku untuk itu. Duh... Andika tersenyum dan mengedipkan matanya. Pucuk din\cinta ulam pun tiba.

Kami terus menerus bercerita, sampai akhirnya kami bercerita tentang perawatan rambut, dimana daun lidah buatya yang selalu kupakai aku ceritakan kepdanya dan ibu Andika tertarik. Kataku, hari ini juga aku bisa mengambilnya, hanya saja, tolong agar Bayu mau membonceng aku naik sepeda motor ke rumah ibuku memang tak jauh dari kompleks kami. Tentu saja ibu Andika tak keberatan dan dia memanggil Bayu dan menyampaikan agar dia membonceng aku ke rumah ibuku. Bayu juga bersedia membenoncengku. Aku tak lagi bergangi pakaian, dengan dasterku, kami pergi naik sepeda motor yang jaraknya hanya berkisar 3 Km.

Begitu keluar kompleks dan memasuki tikungan, aku merapatkan tubuhku ke punggung Bayu dan menempelkan tetekku ke punggungnya, kemudian aku memeluknya dari belakang. Di tempat sepi, langsung aku mengelus kemaluannya yang masih dibungkus oleh celananya sekolahnya.
"Besar juga punyamu," bisikku di telinganya. Lagi-lagi entah darimana keberanianku menyampaikan kata-kata itu kepadanya. Mungkin karena aku sudah sangat horney.
"Lumayan, Tante," jawabnya singkat dan membiarkan tanganku megelus kemaluannya.
"Boleh dong dipinjam," kataku lagi lebih berani.
"Boleh tante. Tapi dimana?" Ternyata Bayu lebih berani lagi. Busyet.

Kami tiba di rumah ibuku. Dengan mengucapkan salam aku emmasuki rumah dan mengambil pisau. Ibu kebetulan mau berangkat mengaji bersama dengan teman-temannya. Kusampaikan maksud kedatangan kami dan ibu sangat tidak keberatan. Katanya, kalau sudah sia. gerbang dikuci saja dan dia membawa anak kuncinya. Kami pun masuk ke dalam rumah. Setiba di dalam rumah, langsung aku memeluk Bayu dan mengecup bibirnya. Kami berpelukan dan saling mengelus.

"Kamu pintar juga berciuman," bisikku. Bayu diam saja dan dia menarik kembali tengkukku dan kembalio bibir kami menyatu dan lidah kami saling bertautan. Dia meremas-remas tetekku yang lumayan besar ukurannya.
"Boleh dong, aku lihat burungmu?" pintaku. Bayu langsung melepas resleting celananya dan mengaluarkan burungnya yang sudah mengeras. Amboooiiii... burung yang gagah perkasa dan gagah perkakas.
Langsung aku menangkapnya dan aku berlutut di hadapannya, kemudian aku memasukkan burung itu bersarang di dalam mulutku. AKu melihat Bayu tenang saja dan rambutku malah dielusnya.
Cepat kulepaskan celana dalamku sampai lepas dari tubuhku. Kutuntun Bayu untuk duduk di kursi dan aku menaiki tubuhnya dari atas, lalu kutuntun pula burungnya bersarang di dalam memekku. Slep... burung itu sudah bersembunyi di dalam. Terasa hanya sekali burung Bayu berada di dalam memekku.

"Enak sayang..." bisikku. Bayu tidak menjawab, melainkan dia memejamkan matanya dan memelukku dengan kuat. Aku mengerti dia masih muda mungkin aku adalah wanita pertama yang bersetubuh dengannya. Dia pun mengerang, kemudian memelukku dengan sekuatnya dan aku mengimbanginya, karean aku tahu dia bakal sampai di puncaknya. Aku menggoyang dan mencari sensasinku agar aku orgasme. Setelah spermanya lepas, aku masih sempat menggoyangnya, sebelum kemaluannya mengecil, aku pun orgasme. Untung aku mendapatkannya.

Bayu malu-malu saat aku amengajaknya ke kamar mandi dan wajahnya selalu menunduk. AKu memeluknya dan mencium pipinya dan berbisik:"Tak perlu malu. Kan hanya kita berdua," bujukku. Nampak dia tenang. Kami pun mengambil beberapa potong daun lidah buaya yang segar, kemudian kami pulang.
Dalam perjalanan aku sempat menghentikan perjalanan dan meminta no HP-nya dan kami bertukar nomor HP. Kami akan janjian dean hanya berhubungan SMS atau telpon, setelah suamiku pergi kerja.

Akhirnya kami berjanji untyuk bertemu di sebuah tempat untuk sama-sama pergi ke sebuah hotel kecil y ang terpencil. Tentu saja Bayu membawa pakaian ganti, agar tidak memakai pakaian sekolah ke dalam hotel. Di sana kami memuaskan diri kami dari berbagai posisi. Aku senang membimbingnya dari berbagai posisi seks. Nampaknya dia menikmatinya dan kami terus melakukannya, sampai pada suatu ketika aku sudah tidak haid lagi.

Aku panik. Tak ada jalan lain, aku menemui seorang temanku dan bercerita dengan aku dramatisir dan dia pun lulus. Temanku ini seorang dokter kandungan dan kami sekelas waktu kami SMP dan SMA dulu. Setelah dia periksa, dia katakan masih bisa, karena belum berusia dua bulan. Dia katakan kepad asuamiku, kalau aku terkena hamil anggur dan harus dikuret. Hamil anggur bisa terjadi, bila jarang disetubuhi. Suamiku merasa berdosa dan dia mengizinkan aku dikuret dan aku harus istirahat selama dua mingu di rumah sakit dan suamiku menyetuhuinya. Setelah kuret berhasil, kemudian aku mendpatkan operasi kecil, untuk menutup peranakanku. AKu ikut KB mantap. Suamiku tidak mengetahuinya. Sejak saat itu, aku dan Bayu terus menerus melakukannya. Aku harus membayar mahal. BUkan hanya uang, tetapi Bayu harus secara bergantian melayani kami, karena temanku itu juga suminya mengalami impotensi setelah kecelakaan lalulintas empat tahun lalu.

Apa boleh buat, aku dan temanku harus berbagi kenikmatan di rumah ibu dokter dan di sana jauh lebih aman daripada di hotel.

Blog, Updated at: 08.43

0 komentar:

Poskan Komentar

Paling Populer

Daftar isi