• Klik Judul Tulisan Untuk Melihat Isi Postingan

    istri calon lurah


    Namaku Nadia aku seorang wanita bersuami, umurku baru 23 tahun.
    Aku masih cantik walau aku sudah kawin dan mempunyai seorang anak perempuan . kulitku putih dan terawat disertai tubuhku yang tingginya 173 cm dengan berat tubuh ideal aku nampak sebagai sorang model walau aku tinggal di P…. daerah Mandar – Sulawesi Selatan
    Pada umur 17 tahun aku dikawinkan dengan bang Nasrul anak dari keluarga pejabat desa.
    Hal ini disebabkan ekonomi keluargaku tidak memungkinkan aku sekolah lebih tinggi selain itu mas kawin dari Bang Nasrul cukup besar sehingga cukup untuk membantu keluarga kami. Aku resminya adalah istri ke 3 dari bang Nasrul. Tetapi kedua istri tua bang Nasrul sudah pisah rumah dan mempunyai usaha sendiri yang cukup besar. Sehingga akulah yang melayani bang Nasrul sebagai istri betulan karena kedua istri yang lain sudah lama tidak campur dengan bang Nasrul hanya statusnya saja masih istri bang Nasrul.
    Pada awalnya perkawinanku dengan bang Nasrul sangat membahagia walau umur kami berdua cukup jauh tetapi tidak ada masalah demikian hubungan intim kami.
    Setahun kemudian lahirlah Anisa anak tercinta kami berdua sehingga menambah kebahagiaan kami
    Masalah mulai timbul setelah keluarga suami mulai mendorong agar bang Nasrul mengikuti pencalonan kepala daerah dengan alasan yang cukup masuk akal yaitu masa pendukung ayah bang Nasrul sangat kuat belum lagi dukungan dari keluarga paman bang Nasrul.
    Pada awalnya memang terlihat dukungan dari pengikut partai yang dimpimpin pamannya Sehingga secara aklamasi Bang Nasrul menjadi calon Bupati dengan mudah.
    Mulailah mas Nasrul kampanye kedaerah-daerah pemilihan sehingga waktu untuk usaha sering ditinggalkan sehingga usaha yang tadinya sukses perlahan sekarang mulai merosot ditinggalkan pelanggannya. Komplain mulai berdatangan sehingga pemasukan otomatis berkurang tetapi pengeluaran berlipat-lipat. Dahulu pengeluaran tidak terlalu besar karena hanya cukup makan dan sesekali membeli pakaian sehingga banyak sisa yang ditabung.
    Sekarang harus mengeluarkan biaya untuk rapat, kampanye dan sangu buat pendukungnya.
    Sewaktu ku ingatkan agar bang Nasrul berhati-hati, bang Nasrul marah sekali seakan –akan aku tidak mendukungnya, beliau berkata kedua istri tuanya sangat mendukung beliau dengan meminjamkan duitnya.
    Yang selalu dikatakan bang Nasrul pilkada itu seperti berdagang dan bila berhasil modalnya akan balik cepat kurang dari setahun dan sisa jabatan akan menuai untung berlipat-lipat , bang Nasrul malah mengutip ungkapan lama “bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian”. Lalu katanya: “Apa kamu nggak senang, bakal jadi istri bupati dari P..….,” kata Nasrul yakin.
    Aku hanya bisa diam saja, sekarang keluarga mulai kelihatan berantakan aku sendiri sudah lama tidak mendapat nafkah lahir batin karena Bang Nasrul lebih sering berfoya-foya dengan teman-temannya ditempat-tempat maksiat. Untungnya dulu aku secara sembunyi-sembunyi menyimpan kelebihan uang belanja dengan membeli mas, sehingga pelan-pelan aku menjualnya untuk biaya hidup berdua dengan anakku
    Waktu pemilihan kepala daerah tiba, bang Nasrul sudah 3 bulan tidak pulang kerumah bahkan sekarang dia mulai musrik , mendatangi dukun-dukun yang keasliannya kuragukan bahkan perintah untuk menyediakan sesembahan yang aneh-aneh juga dilakukan demikian juga bertapa digua-gua.
    Aku ngeri sekali bila dukun-dukun itu minta aku melayani mereka hi……seram
    Ternyata bang Nasrul tertipu habis-habisan oleh pendukungnya karena hasil pemilihan menunjukan suamiku Cuma dapat angka dibawa 10 suara dan ini menunjukkan bahwa dari keluarga besar saja ada yang membelot
    Setelah pemilihan kepala daerah suamiku emangkin jarang pulang karena suamiku dikejar-kejar debt kolektor akupun ikut pusing karena aku pun ikut kena getahnya. Sehingga akupun ikut mengungsi kerumah orang tuaku.
    Ternyata kedua isri tuaku mempunyai dendam yang sangat dalam kepadaku dan juga suamiku ikut pemilihan kepala daerah merupakan salah satu strategi yang kejam untuk menjatuhkan suamiku dan diriku. Sewaktu dulu suamiku meminjam uang kepada kedua istri tuanya telah dibuat perjanjian agar aku dijadikan jaminan utamanya dan suamiku menurut saja karena dalam pikirannya dia nggak mungkin kalah dalam pemilihan ini. Rencana ini juga didukung oleh Pak Hamid seorang duda tua yang sangat kaya diaerahku. Kak Ratih dan kak Ina ternyata simpanan pak Hamid.
    Pak Hamid juga seorang pesaing bisnis suamiku, dan pernah terlibat beberapa kali transaksi dengan suamiku, sewaktu transaksi dirumah pak Hamid tergiur dengan kecantikkan dan kealimanku sehingga rencana jahatpun disusunnya dengan rapi untuk menjatuhkan saingannya.
    Sewaktu bang Nasrul menceritakan bahwa aku telah dijual ke Pak Hamid akupun marah besar demikian juga keluargapun tetapi apadaya nasi sudah menjadi bubur jadi sudah tak ada jalan lain aku harus mengawini pak Hamid.
    Daei segi fisik pak Hamid sangat tidak menarik , tubuhnya kurus kering dan berkulit hitam sehingga bertolak belakang denganku disamping itu codet besar yang menyilang dimukanya membuat orang yang melihatnya berbuat seram.
    Perkawinanku berlangsung sederhana , hanya kami berdua saksi penghulu dan anak buah suamiku

    0 komentar:

    Poskan Komentar