Gadis gembrot


Wiwien gadis berusia 18 tahun. Kalau melihat wajahnya dan bibirnya serta senyumnya yang sangat manis, dia sebenarnya gadis menawan. Tingginya 168 Cm dengan berat badan 88 Kg, berkulit putih mulus. Di sekolah dia sebenarnya anak yang pintar dan selalu menjadi juara umum. Sayang, dia selalu jadi bahan ejekan teman-temannya.

Fadil, seorang guru olahraga yang baru saja pindah ke sekolah tempat Wiwien sekolah. Setelah 10 hari dia mengajar, dia mengetahui Wiwien gadis cantik, anak orang kaya dan manja namun selalu bahan ejekan. Fadil memanggilnya dan memuji sikap belajarnya. Wiwien pun sangat senang mendapat pujian dan Fadil suka membela Wiwien, bila temannya mengejeknya.

Pinggulnya yang besar apalagi teteknya sangat besar. Mungkin dia harus menempah bra untuk teteknya. Bagaimana celana dalamnya? Sejak Fadil seka membelanya, Wiwien pun semakin mendekatkan diri kepada Wiwien. Wiwien selalu datang ke rumah Guru yang sudah berusia 34 tahun, bujangan yang konon kabarnya patah hati itu. Mereka selalu ngobrol, sampai suatu sat Fadil mengusulkan agar Wiwien mau b elajar renang, agar otot-ototnya kuat, mjudah-mudahan banyak lemak yang bisa dibakar. Hal itu disampaikan kepada ayah Wiwien dan akhirnya ayah Wowien menyetujuinya membuat kolam renang khusus untuknya di vella mereka di Ciawi.

Tiga kali seminggu Fadil dijemput pakai mobil, kemudian mereka belajar berenang di Villa di Ciawi. Setiap selesai renang, Fadil mendapat honor Rp. 100.000,- selain makan minum dan rokok serta antar jemput. Fadil sangat senang.
"Hari ini hujan deras ni. Gimana kalau kita duduk aja di teras villa sambil makan ayam goreng. Aku akan pesan pda penjaga?" usul Wiwien. Fadil setuju, karean hujan demikian dingin. Dalam sekejap, lima potong ayam goreng serta sebotol bir sudah terhidang dengan makanan lain. Nanti malam mereka akan makan malam dan hidangan sedang disiapkan oleh penjaga villa, mBok Inem.

Fadil tak kekurangan akal, Diamulau merangkul Wiwien dengan hati-hati, takut tersinggung. Dengan alasan dingin dan ingin menghangatkan tubuh, Fadil memeluknya. Tak kepalang bahagianya hati Wiwien mendapat pelukan guru olahraga yang berotot itu. Wiwien tau, gurunya juga dalah instruktur Aerobik.

Dan... Fadil menarik tengkuk Wiwien, kemudian melumat bibirnya. Mungkin saja Wiwien belum pernah berciuman seperti itu. Dengan serangan bertubi-tubi, akhirnya Wiwien luluh juga dan perlahan memberikan respons-nya. Lidah Wiwien diemut-emut, kemudian gantian Wiwien yang ngemut lidah Fadil.

Hujan semakin deras sedang makanan tiga jam lagi baru siap. Dalam udara dingin itu, Fadil mengajak Wiwien ke dalam kamar dan langsung dimauin oleh Wiwien. Di kamar berukuran 4 x 4 meter itu, Fadil dengan lihat mampu melepaskan semua pakaian Wiwien dan pakaiannya sendiri. Bereka sudah benar-benar bugil.

"Siapa bilang kamu tidak cantik?" kata Fadil memulai rayuannya, sembari mengelus tetek yang sangat besar itu. Pentilnya berwarna pink dan masih kecil.
"Tapi saya gembrot, Pak" kata Wiwien.
"Jangan lihat gembrotnya dong. Tapi bagaimana kamu mampu memberikan kepuasan juga dalam soal seks," kata Fadil. Kembali Fadil memeluk Wiwien dan melumat bibirnya, sembari tangannya meremas buah pantat Wiwien yang besar dan sangat keras itu.

Hanya pada pinggang dan pangkal paha, ada lipatan. Selebihnya tidak. Perut Wiwien yang besar, menurut Fadil bisa dikecilkan asal mau bekerja keras untuk latihan dan diet. Fadil pun mulai meraba-rama memek berbulu tipis itu. Karean kedua pahanya menyatu, sulit juga bagi jari Fadil untuk mencapai bibir memek yang sepertinya tersmpan di antara kedua pahanya.

"Kamu terlentang sayang..." bisik Fdil. Mendengar kata sayang, Wiwien semakin bahagia. Mungkin hanya ibu dan ayahnya saja yang memanggilnya dengan kata sayang. Wiwien tanpa ragu-ragu menelentangkan dirinya di atas tempat tidur. Kemudian Fadil mengangkangkan kedua pahanya, untuk menjilat memek yang tersembunyi itu. Sayang Fadil kesulitan untuk mendapatkannya. Akhirnya, Wiwien diminta untuk menungging dengan mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar. Barulah Fadil jelas melihat memek berwarna pink itu. Fadil tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Duia mulai menjilati memek yang sudah basah.

"Duh....." Wiwien mendesah.
"Nikmati saja sayang. Kamu akan menjadi gadis yang dewasa," kata Fadil.

Fadil terus menjilatinya dan mempermainkan elusan demi elusan. Wiwien sepertinya tak sanggup lagi menahankan kenikmatan itu. Dia merintih-rintih dan mendesah-desah terus. Lendir yang keluar dari memeknya, bagikan air bah atau sungaui yang banjir. Bening dan mengeluarkan aroma mesum. sampai akhirnya Wiwien terbaring dan nafasnya satu-satu. Fadil ketakutan. Dia takut gadis gembrot itu akan mati atau pingsan. Bagfaimana dia memakaikan pakaiannya?

"Wien... kamu kenapa sayang....?" Fadil ketakutan. Dilihatnya wajah Wiwien seperti pucat.
"Duh... lebih sekali, pak. Tapi sangat nikmat," suara Wiwien memecah kesunyian dingin. Darah Fadil pun kembali berdesir seperti kembali mengaliri pembuluh darahnya. Dia tersenyum.
"Yang penting, kamu sudah bisa menikmatinya sayang. Setiap hari kita akan latihan seperti ini, untuk membuatmu menjadi langsing," kata Fadil. Mendengar kata langsing, Wiwien pun menjadi semangat. Dia langsung duduk dan memeluk Fadil.
"Kalau aku langsung, maukah bapak menikahi aku?" tanya Wiwien. Fadil mengangguk. Kenapa tidak, bukankan Wiwien seorang yang cantik pada dasarnya? Wiwienpun sangat bahagia.

Mereka kembali memakai pakaiannya masing-masing, menunggu makanan siap. Setelah ada aba-aba dari bawah melalui aipohone, meereka pun turun sembari berpelukan. Sebelum sampai di tangga dengan berani Wiwien bertanya:"Maukah Bapak menjadi pacarku?"
"Asal kamu mau merahasiakannya. Sebab sangat tabu di mata orang, seorang guru memacari muridnya?" alasan Fadil. Wiein menganggukkan kepalanya tanda setuju merahasiakannya.

Usai makan, mereka pun pulang kembali. Hanya perjalanan satu jam mereka sudah sampai di rumah Wiwien, kemudian supir akan mengantar Fadil ke tempat kosnya dekat sekolah selama setengah jam lagi. Malam itu, Wiwien menyelipkan uang Rp. 2 juta pada Fadil.
"Untuk ap ini?" bisik Fadil.
"Pegang aja, mana tau ada keperluan,": kata Wiwien. Fadil pun tersenyum. Dia pintar memanfaatkan siatuasi, cukup dengan pujian, melatih berenang dan olah raga lainnya bahkan Yoga serta mencumbunya.

Mereka terus latihan olah raga dengan pendampingan seorang dokter olahgara juga, dalam sebulan berat badan Wiwien turun smpai 7 Kg. Dia sangat senang sekali. Sampai dai berbisik kepada Fadil.
"Yank (jika berdua, Wiwien sudah memanggilnya sayank), besok aku akan membelikan kamu mobil bekas Suzuki Katana. Mobil bekas dulu ya yank. Aku nabung dulu, nanti baru kita ganti," kata Wiwien.
"Wah.. kamu jangan macam-macam. Dari mana uangmu?" tanya Fadil. Menurut Wiwien dia menabung setiap hari. Setiap bulan dia mendapat uang saku dan keperluan lainnya dari papanya sebesar Rp. 35 juta. Fadil pun mengernyitkan dahinya. Berarti uang jajannya perhari, sama dengan gajinya sebulan. Fadil pun teresneyum setelah mereka membeli mobil bekas yang baru dipakai setahun oleh pemilik pertama.




Wiwien yang tak pernah mendapatkan perhatian, menjadika dirinya melayang terbang. Guru olahraganya yang atletis membuat dirinya jadi percaya diri. Walau teman-temannya suka ngejek, dia sudah cuek saja, karena dia percaya dia masih cantik.

Tak tau dari mana mulanya, akhirnya ayah Wiwien mempercayakan kebun angrek seluas tuga hektar untuk dikelola oleh Fadil, terlebih Fadil sudah punya mobil. Tentu saja gajinya besar, selain itu ada bonus keuntungan. Fadil sendiri tidak mengerti, kenapa ayah Wiein begitu percaya padanya. Jelasnya ayah Wiwien sengat senang melihat Fadil, demikian juga ibu wiwien.

Karena sudah dipercayai dan Fadil pun tidak lagi mengajar di beberapa sekolah swasta, cukup di SMU negeri ** saja, ayah Wiwien pun memberika kepercayaan penuh padanya, termasuk ikut mengelola administrasi dan pengawasan dua buah Villa. Fadil diberikan apa saja, jika asalannya cukup dan kuat. Seperti merenovasi kedua villa, membuat pagarnya dan menata taman serta perbaikan kolam renang. Biaya sampai 3 M, semua dipenuhi dan hasilnya, memang tidak mengecewakan.

Kepercayaan itu pula, ayah Wiwien mempercayakan Wiwien untuk diawasi oleh Fadil. Selama tiga bulan di Amerika, Fadil diminta tinggal saja di rumah. Selain bisa mengawasi wiwien, juga pembantu akan menyiapkan segalanya. Bisa juga ke sekolah naik mobil sekalian dengan Wiwien. Mulanya Fadil agak segan juga, karena di desak terus akhirnya Fadil bersedia juga.

Begitu pesawat JAL take off dan landasan pacu, Fadil dan Wiwien minggu itu lansung pulang. Dari Bandara, Wiwien langung mengusulkan, agar mereka ke villa saja dan dari villa saja besok paginya langsung ke sekolah. Bedua mereka ke villa dan sampai pada pukul 16.00. Se,pat berenang. Sudah banyak kemajuan. Lipatan pda paha wiwien sudah semakin berkurang dan perutnya juga sudah semakin mengecil Setiap minggunya, rata-rata terjadi penurunan berat badan sekitar 2- 2,5 kg.

Sambil berenang Wiwien bertanya. Kenapa Fadil hanya selalu menjilati memeknya saja. Kenapa tidak seperti BF menyucuknya dengan ****** yang tegang dan mengeras.
"Kok kamu nanya seperti itu" tanya Fadil.
"Mau saja. Coba kenapa sih?" rayu Wiwien.
"Ntar kamu tidak perawan lagi. GImana dong?" tanya Fadil.
"Mau perawan mau gak, kenapa sih?" Wiwien seperti merajuk.
"Ntar siapa mau jadi suamimu, kalau kamu udah gak perawan lagi?"
"Apa lagi-lagi hanya mau gadis perawan?"
"Mayoritasnya begitu."
"Aku gak perduli. Aku mau rasain," Wiwien merajuk lagi.
Fadil tersenyum dn membimbingnya naik dari air karena sudah terlalu lama. Wiwien memakai Kimono Handuk Berukuran besar lalu DFaduil memakai Kimono Handuk berukuran sedang. Mereka melangkah ke lantai atas, setelah Wiwien meminta pelayan menyiapkan makanan.

"Benar kamu pingin?" tanya Fadil. Dengan senyum Wiwien menganggukkan kepalanya. Fadil pun menjelaskan, kalau mulanya terasa sakit, Tapi setelah ****** memasuki ruang dalam memek, rasa sakit perlahan hilang dan berganti dengan rasa nimat dan indah.
"Mengerti?" Fadil bertanya. Sebanrany Fadil sendiri sudah l;ama ingin ngentot Wiwien. Dia belum pernah ngentot gadis gembrot seperti Wiwien.

Fadil mulai mengecup bibirnya, kemudian mempermainkan lidahnya, hingga lidah bereka saling mengait. Rasa, jilat dan isap mereka lakukan sampai keduanya horny betul. Saat Fadil meraba memek Wiwien, ternyata memeknya sudah basah sekali. Lendir sudah membasahi, bukan saja memeknya, juga sudah meleleh ke pahanya.

Fadil menelentangkan Wiwien di atas tempat tidur, lalu mengangkangkan kedua kakinya. Saat Fadil memasuki sela paha Wiwien, ternyata kedua paha itu tetap bergesekan, hingga tak mungkin Fadil menusuk Wiwien. Dengan pikiran yang cepat, Fadil memeinta Wiwien menungging, karena tak bisa disodot kalau berhadap-hadapan. Wiwien pun mengikut.

Wiwien nungging di atas tempat tidur, sedang Fadil berdiri di lantai. Wiwien berusaha mengangkangkan kedua kakinya dan dia memeluk dua bantal bertindih. Perlahan Fadil mengubakkan memek Wiwien, lalu memasukkan ujung kepala kontolnya ke lubang pink memek berbulu tipis itu. Setelah yakin ujung kontolnya menyentuh lubang memek Wiwien, dia pun kemudian menekan perlahan-lahan kontolnya semakin ke dalam pada memek yang sudah basah berlendir itu.

Semakin lama, semakin dalam ujung ****** Fadil memasuki lubang sempit itu.
Sssssttttt.... Wiein menahan rasa sedikit nyeri.
""Kamu sanggup menahan sedikit sakitkan?" tanya Fadil.
"Sanggup teruskan aja," kata Wiwien yang begitu ingin merasakan nikmatnya ****** memasuki memeknya. Selama ini sejak SMP dia hanya mendengar bagaimana enaknya memek disodoksodok ****** yang besar dan panjang. Dia tidak mau ketinggalan oleh teman-temannya. Pengalaman teman-temannya, harus enjadi pengalamannya juga.

Srett...sreettt... suara seret merobek sesuatu. Saat itu Wiwien menjerit kecil.
"Sakit?" tanya Fadil.
"Gak usah tanya... tanya, terusin aja. Kenapa sih. Tapi janji ya, nanti pasti enak," kata Wiwien seperti mengancam. Fadil tersenyum. Dia meneruskan menekan kontolnya, karean Wiwien sudah menantangnya. Dan... kontolnya sudah habis tertelan dalam memek Wiein. Ada sedikit darah menyatu dengan lendir, hinga lendir yang seharusnya berwarna putih, menjadi pink.

Sembari menjilati puunggung Wiwien, Fadil pun menusuk tarik kontolnya perlahan-lahan pada memek yang tembem dn berlemak itu. Pantat yang beguitu besar, susah untuk dipeluk.
Ceplok... ceplok....ceplok.... suara itu keluiar dari memek yang setiap ditarik ****** dari dalamnya, selalu mengeluarkan bunyi. Fadil semakin bersemangat, karean kontolnya sudah bebas keluar masuk pada lubang memek yang sudah licin oleh banjiran lendir.

"Ayo dong... yang cepat duikit kenapa sih?" Wiwien sudah mulai memerintah, minta dikocok lebih cepat lagi. Fadil mengerti kenapa. Dia tau, Wiwien sebentar lagi mau sampai pada puncaknya. Fadil hanya sengaja mempercepat sedikit, namuan tusuk-tariknya tetap dilakukannya secara taratur.
"Ayo doooong. Kenapa sih?" Wiwien meminta lagi.
"Mau diapain lagi? Kan udah ni?"
"Yang kencang yang laju dan cepat, ayo-ayo-ayoooo... Enak banget tauuuu," Wiwien terus menyeracau. Mulutnya tak bisa diam menahankan nikmat dientot dari belakang.
Fadil juga ternyata sudah mau sampai pada puncaknya, dia pun mempercepat kocokan tusuk-tariknya di lubabhg yang basah dan becek itu. Makan lama makin cepat, kemudian menusuknya sedalam mungkin dan muncarlah spermanya beberapa kali. Mereka pun mendesah, sampai akhirnya ****** menecil dan keluar dari sarang gua.
Mereka berpelukan dan tersenyum.
"Sekarang kamu sudah deawasa," kata Fadil. Wiwien tersenyum.

Blog, Updated at: 08.47

0 komentar:

Posting Komentar

Paling Populer

Daftar isi