Barang Pinjaman

Seperti biasa, hari minggu sore aku duduk-duduk di balkon kost-kostanku, mau mandi
rasanya masih malas. Namaku Aldi, 27 tahun, profesiku sebagai seorang insinyur sipil, asalku dari sebuah desa di lereng gunung lawu, jawa tengah. Sesuai profesiku aku harus bekerja jauh dari rumah, diproyek-proyek konstruksi seperti sekarang yang kujalani di jakarta. Sebelumnya tidak menjadi masalah bagiku untuk merantau kemanapun, bahkan aku sempat hidup di hutan selama berbulan-bulan saat mengerjakan proyek jalan di kalimantan. Namun, beberapa bulan terakhir ini terasa lebih berat bagiku karena aku baru saja menikah.

Tepatnya 6 bulan yang lalu aku menikahi Ana, anak kepala desa di daerah asalku. Hanya 3 minggu aku menikmati bulan madu menjadi pengantin baru, karena aku harus segera kembali ke jakarta untuk meneruskan pekerjaanku. Dan sekembali ke jakarta akupun harus menjalani kehidupan yang sama dengan saat sebelum aku menikah, tinggal sendiri di kost-kostan seperti seorang bujangan. Namun tentu saja ada yang berubah dan tak bisa sama, yaitu kebutuhan seksualku. Selama 3 minggu setelah pernikahan, aku bisa melampiaskan nafsu birahiku sepuas-puasnya dengan tubuh Ana, meski sebenarnya aku tidak begitu mencintai Ana, namun tidak ada ruginya aku dijodohkan dengan dia, secara status jelas dia anak orang terpandang, secara pendidikan lumayan meski hanya tamat SMA, yang paling menyenangkan tentu secara fisik, Ana memiliki tubuh yang bersih dan terawat, kulitnya cukup putih, pantat pinggul dan buah dadanya montok. Semenjak malam pertama hingga tiga minggu cutiku kuhabiskan waktuku untuk mengocok vagina Ana dengan penisku, menyemprotkan sperma sambil menjilati kedua buah dadanya yang kenyal dengan putting yang mungil, menikmati surga dunia yang gratis bisa kupakai kapan saja.Namun setelah cutiku habis aku harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pekerjaanku, sementara aku belum siap membawa Ana bersamaku, yah masalah tempat tinggal dll, termasuk ibunya yang masih berat berpisah dengan anak satu-satunya. Jadilah selama 2 bulan lebih ini aku kembali tidur berteman guling, sambil menahan nafsu berahi. Sementara untuk pulang ke kampung belum memungkinkan mengingat tenggat proyek yang begitu mendesak.

Dan sore itu hari aku pulang sedikit awal, dan sebelum mandi aku duduk bersantai di balkon, kebetulan kostku berada di lantai 2 dengan balkon yang menghadap ke deretan kost lain di belakang. Tentu saja duduk di situ bukan tanpa tujuan, karena dari balkon ini aku bisa cuci mata melihat jemuran celana dalam dan bra yang berderet-deret, sambil sekali-dua kali melihat cewek pemiliknya mengambil jemuran, tak jarang hanya dengan memakai tank top dan celana pendek, lumayan. Sambil menunggu obat mata, akupun membuka-buka HP melihat gambar-gambar bintang BF jepang yang kusimpan di dalamnya. Dan si adik kecilpun bereaksi melihat tubuh-tubuh mulus yang telanjang itu, terkadang tanpa sengaja tanganku reflek mengelus-elus benda pusaka itu dan membuatnya semakin mengeras.

Berahi yang memuncak dan gambar-gambar di hp membuatku lupa kalau aku masih berada di balkon. Ketika mendadak tercium bau segar sampo akupun tersadar dan menoleh, dan aduh! Ternyata mbak Rini yang kamarnya di tepat sebelah sedang mengeringkan rambutnya di pintu kost. Posisinya yang agak kebelakang membuatnya bisa melihat bebas ke layar hp androidku yang cukup besar, dan cukup untuk membuatnya melihat jelas gambar-gambar cewek telanjang yang sedang kunikmati. Damn! Akupun jadi kikuk dan salah tingkah.

“Eh mbak, habis mandi ya” sapaku kaku. “iya mas Aldi, sekalian keramas nih biar seger” jawabnya sambil tersenyum penuh arti, sekilas matanya melirik ke bawah dan maaak, batang penisku yang menegang rupanya menonjol jelas dibalik celana pendekku. Setengah mati aku berusaha merubah posisi duduk namun tetap gagal menyembunyikan tonjolan itu. Sebodo ah….

Mbak Rini yang tinggal di sebelah kostku adalah seorang PNS dari Jawa Timur yang sedang mengambil kuliah S2 di Jakarta. Demi mengambil jenjang studi itu dia rela berpisah dengan anak dan suaminya. Meski kamar bersebelahan kami jarang sekali ngobrol, paling hanya bertegur sapa saja, karena memang jadwal kerjaku padat dan kadang mbak Rini pun harus kuliah sampai malam. Baru sore ini saja kami sempat bertemu dalam kondisi yang sama-sama santai.

“kok tumben mbak di kost, gak kuliah ya” tanyaku berusaha mencairkan kekakuan ini. “enggak mas, kebetulan dosennya lagi ke singapura, dan cukup banyak tugas yang harus saya selesaikan”… dan obrolan kamipun berlanjut semakin akrab. Membicarakan istriku dan keluarga mbak Rini juga. Sambil ngobrol mbak Rini terus menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang masih agak basah, matakupun melirik-lirik tubuh mbak Rini, mencuri-curi pandang ke buah dadanya yang lumayan montok, apalagi dia hanya memakai kaos you can see, berbelahan dada rendah, membuat celah di antara kedua payudaranya menyita perhatian mataku, termasuk kedua lengannya yang putih bersih. Matakupun terus melirik-lirik hingga ke bawah, celana pendek ketak dan kedua paha mbak rini yang mulus… gawat, si otong tambah gelisah nih melihat body mbak Rini yang seksi berisi, meski usianya udah kepala tiga. Ditambah bau harum sampo yang dipakainya keramas… ^^ keras bener penisku, menonjol jelas di balik celanaku
Dan blar… bagai disambar petir rasaanya saat tiba-tiba mbak Rini berkata “Mas Aldy, itu adiknya kenapa, kayaknya tegang bener hihihihi… nahan yaaa….” “eh iya mbak, gimana lagi, jauh dari istri” jawabku terbata…
“duh pasti berat ya… pasti sering ngocok sendiri nih” kata mbak Rini sambil cekikikan….
What the hell lah, kataku dalam hati… meski muka merah padam kuberanikan diri menjawab “hehehe gimana lagi mbak, ketimbang jajan di luar takut penyakit, ya terpaksa self service” ….
“wah pasti bayangin yang enggak-enggak ya… sambil bayangin siapa nih mas Aldy…” mbak Rini tak hentinya menggodaku.
“ada deh mbak, hehehehe… paling sambil liatin jemuran celana dalam di depan tuh, sambil banyangi isinya hehehe….” Kami berdua pun tertawa bersama
“untung saya gak pernah jemur celana dalam di balkon, bisa-bisa ilang dicolong mas Aldy nanti” dan obrolan kamipun semakin memanas, mbak Rinipun menceritakan meski terpisah dari suami, namun tiap akhir bulan dia pasti pulang, sehingga dia dan suami tak perlu menahan nafsu terlalu lama….
Setelah selesai mengeringkan rambutnya, mbak Rini pun menaruh handuk di tempat jemuran di dekat pagar, matakupun tak menyia-nyiakan kesempatan melihat bokong mbak Rini yang bulat terbungkus celana pendek ketat itu. Selesai menaruh handuk, mbak Rinipun berbalik, lalu mendekat ke pagar yang memisahkan balkonku dengan balkon kamar dia, lalu dicondongkannya tubuhnya melewati pagar, didekatkannya wajahnya ke wajahku, sambil tersenyum mbak Rini berkata pelan namun mengagetkan : “Mas Aldy, kalau lagi butuh bilang aja ke mbak, nanti mbak pinjamin punya mbak … “
“ah uh eh…. Dipinjamin celana dalam mbak buat ngocok maksudnya eeeeee” jantungku berdebar kencang dan hampir aku tak bisa bicara.
“pinjam celana dalam boleh, mau pinjam isinya sekalian juga boleh hihihihi… kalau mas Aldy mau, biar udah tua gini punya mbak masih enak lhooo….”
“beneran mbak?” kataku hampir tak percaya.
“ya beneran lah, mbak cuman mau bantuin mas Aldy aja, lagian punya mbak juga nganggur di sini, udah mending sekarang mas Aldy ke kamar aja, kasian tuh pusakanya, pintu kamar enggak mbak kunci kok” selesai berkata mbak Rinipun membalikkan badan masuk ke kamar sembari menutup pintu balkon.
Sejenak aku bengong, mikir-mikir mimpi apa semalem, lalu akupun buru-buru berdiri dan masuk ke kamar. Di dalam kamar aku kembali bingung mondar-mandir sendiri, damn, what the hell lah, kapan lagi ada kesempatan seperti ini, berahiku memuncak membayangkan tubuh telanjang mbak Rini. Tanpa berpikir lagi akupun segera menuju ke pintu kamar mbak Rini, perlahan kuputar handle pintu, dan ternyata benar tidak dikunci. Akupun masuk ke dalam kamar mbak Rini dengan jantung berdebar keras. Mbak Rini tampak sedang duduk di depan meja rias, kaos dan celana hotpant yang tadi dipakainya sudah berganti dengan daster warna biru tanpa lengan. “eh mas Aldy, bentar ya mas” katanya sambil terus menyisir rambutnya lalu. Sebentar kemudian mbak Rini pun berdiri, “tolong kunci pintunya ya mas” katanya sambil mengikat rambutnya ke belakang dengan pita. Lalu mbak Rinipun berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Disusunnya dua bantal lalu direbahkannya tubuhnya ke atas tempat tidur dengan bersandar ke kedua bantal itu. “Sini mas, jadi gak” bisiknya sambil tersenyum nakal, tangannya meraih sebuah majalah. Dengan jantung berdebar keras akupun mendekat ke arah mbah Rini. Lalu perlahan duduk di samping tempat tidur itu. Sambil tersenyum mbak Rini kembali bicara dengan suara pelan “mas Aldy, inget ya, kita enggak bercinta lhoo, mbak cuman pinjamin aja buat mas, itung-itung membantu tetangga yang lagi gelisah…” ucapkan sambil tertawa pelan. Mulutku seakan terkunci, Cuma bisa bersuara emmm anu emmm anu…hahahah. Mbak Rini sepertinya mengetahui kegugupanku, perlahan ditekuknya kedua lututnya ke atas dan dibukannya lebar, ditariknya daster biru itu ke pinggangnya, dan terpampanglah sepasang paha sintal dan mulus, mataku pun liar menatap celada dalam putih tipis yang seakan penuh menampung vagina mbak rini, methuthuk kalo orang desaku bilang. Dan akupun tak mampu lagi mengendalikan adik kecilku yang semakin tegang mengeras. “udah mas jangan diliatin aja, monggo digarap, gak usah sungkan sungkan, dinikmati aja” ucap mbak Rini sambil membuka majalah di tangannya lalu ditutupkan ke wajahnya.

Tak ragu lagi, akupun bergeser ke atas ranjang, duduk tepat di antara ke paha mbak rini, tak sabar tanganku segera menjamah dan mengeluh paha putih mulus itu, bibir dan lidahku pun segera menyapu bagian dalam paha mbak Rini, terdengar mbak Rin mendesar perlahan, membuatku makin bernafsu. Tak sabar kuelus pelan gundukan vagina yang masih terbungkus celana dalam putih itu, terasa begitu kenyal dan… basah…. Rupanya mbak Rini udah cukup terangsang, entah sensasi dan fantasy apa yang dirasakannya, tapi vagina sudah begitu basah, hingga cairannya menembus celana dalam yang dipakainya…. sementara tangan kananku berusaha menelusup ke balik celana dalam mbak Rini, kupelorotkan celana pendek dan celana dalamku dengan tangan satunya…. Dan si otongpun mencuat tegang begitu terbebas dan penjara sempak yang kupakai….

Mak Rini masih terbaring dengan wajah ditutupi majalah, kedua tangannya berpegangan ke tepi atas bantal yang dipakainya sandaran, memamerkan ketiak dengan bulu ketek halus dan pundak yang seksi… nafasnya nampak mulai memburu membuat dada montoknya bergerak naik turun… ah andai saja aku dipinjami buah dada itu juga…. Hais… dikasi hati minta ampela nih… jemari tangan kanankupun tak henti mengelur menekan dan bergerak di balik celana dalam seksi itu, dan semakin berlumuran lendir yang keluar dari vagina mbak Rini... “lepas aja ya mas, ganggu kayaknya... “ dan mbak Rinipun mengangkat pinggulnya lalu kedua tangannya dengan cepat mendorong celana dalam itu melorot melewati kedua lututnya dan tumitnya… dan voila… vagina yang dihiasi bulu bulu jembut keriting-keriting lembutpun terpampang bebas di depanku, beberapa centi dari kontolku yang semakin berdenyut-denyut… Sebenarnya aku pingin agak lama bermain dengan lubang surga itu, tapi selain si otong yang sudah membatu rasanya dan nafsu yang sudah diubun-ubun, serta ada rasa bingung juga, namanya barang pinjaman masak dipakai lama-lama hehehe…

Tanpa menunggu lama lagi akupun mendekat ke pangkal paha mbak Rini yang semakin mengangkang memberi jalan buatku… kubuka lebar mulut vagina mbak Rini dengan tangan kirikun dan segera kutempelkan ujung kontolku lalu kudorong dengan penuh nafsu menghunjam ke dalam lubang berlendir yang penuh rasa nikmat itu…. Tubuh mbak Rini terguncang perlahan, dadanya terangkat dan kedua tangannya meremas ujung bantal yang dijadikan sandaran kepalanya, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya karena tertutup oleh majalah yang sedari tadi ditaruh di atas wajanya…. Entah apa tujuannya tapi aku tidak perduli karena aku sedang sibuk oleh rasa nikmat dan birahi yang mendapatkan pelampiasannya…. Setelah melesak penuh ke lubang vagina mbak Rini, aku berhenti sejenak, menikmati sensasi panas dan rasa nikmat sambil menata posisiku untuk kemudian mulai kugenjot tubuh mbak Rini berirama, keluar masuk keluar masuk keluar masuk sambil sesekali kuhentakkan sedikit keras… peluhpun membajiri tubuhku… dan aku pun mengerang ah ah ah ah sambil terus mereguk kenikmatan birahi yang kunikmati saat menyetubuhi tetangga kost ku ini…. Segera kulepas kaosku dan kulempar ke lantai…. Rasa nikmat itu semakin memuncak seiring dengan gerakan pinggulku maju mundul menusuk-nusukkan kontolku ke dalam vagina mbak Rini….
Sesekali kuhentikan untuk mengatur nafas dan meredakan desakan si otong yang pengen segera menyeburkan pejuh…. Kulihat mbak Rini tidak bereaksi apa-apa selain kedua tanganya masih menggenggam ujung bantal sandaran kepalanya, dan butiran keringat mengalir dari lehernya yang mulur mengalir ke belahan dadanya yang masih tertutup daster biru…

Kembali aku menggoyang vagina mbak Rini sambil memeluk kedua paha mulus sintal itu, lendir putih tampak melumuri bibir vagina dan batang kontolku… akupun terus menggenjot…ah ah ah ah ah….tempat tidur di kamar kost itu sampai berderit-derit seolah mau roboh… dan setelah beberapa menit akupun mulai tak tahan lagi… “mbak, aku mau keluar… gimana nih gak pake kondom” ujarku dengan nafas tersengal sambil tanpa berhenti menggerakkan pinggulku maju mundur… “keluarin di dalam aja mas, gak pa pa….” …. Dan akupun segera menghentakkan pinggulku melesakkan kontolku dalam-dalam ke vagina mbak Rini, tubuhku mengejang merasakan orgasme dan “crooooot…. Croooooot…. Crooot….” Si otong pun menyemburkan air mani tumpah ke dalam vagina mbak Rini yang terasa begitu panas membara…. Tubuhku kembali mengejang seakan menguras setiap tetes sperma yang tersisa…. Vagina mbak Rini terasa berdenyut denyut seolah memijat dan memeras habis sperma yang kumiliki…. Kulihat tangan mbak Rini terlepas dari ujung bantal lalu merenggut dan menarik sprei tempat tidur saat tubuhbuh menggelinjang menahan nikmat orgasme…. Beberapa detik berlalu namun rasa nikmat itu terus mendera…. Kutarik perlahan si otong yang mulai melemas keluar dari lubang surga yang belepotan lendir kenikmatan… mbak Rinipun bergegas menyambar celana dalam di atas sprei dan untuk menampung spermaku yang mengalir keluar lubang vaginyanya….. banyak….

“wah banyak mas Aldy…. Puas gak…” ucap mbak Rini sambil tersenyum-senyum….
“luar biasa mbak Rin, puas banget, punya mbak Rin enak banget rasanya, lebih enak dari punya istri saya….”
“hus, jangan gitu mas, jangan dibandingi, karena tiap wanita tidak sama…. Apalagi istri mas kan masih muda banget, belum pernah dijamah lelaki lain pastinya…”
“tapi beneran kok mbak…. Enak….”
“ya iyalah, mas kan udah nahan lama, makanya terasa enaak….”
“makasih ya mbak, duh gimana harus bales nih”
“gak usah dibales, kapan aja mas Aldy butuh bilang aja, gratis kok… “ mbak Rini pun meraih tisu basah di atas meja lalu asyik membersihkan selakangannya dari sisa-sisa lendir…. Sementara aku terbaring lemas di tempat tidur…
Beberapa saat kemudian mbak Rini menyusulku berbaring “mas gak usah balik kamar di sini aja, sapat tahu ntar masih pengen lagi, kalo saya ketiduran, perkosa aja hehehe… “ ucapnya sambil tertawa kecil… cantik…

Blog, Updated at: 21.01

0 komentar:

Posting Komentar

Paling Populer

Daftar isi