Seks

Pengalaman ini terjadi 2 bulan lalu. Waktu itu aku kedatangan teman ibuku. Sebut saja nama Teh Ella. Dia wanita berusia 35 tahun, menggunakan jilbab dan sudah punya 2 anak.
"Mama belum pulang,"kataku". "Mungkin nanti sore baru pulang"
Teteh Ella menunggu sambil baca majalah.
Saat itu aku mengamati wajahnya yang manis, meskipun tidak memakai kosmetik. Mataku turun ke dadanya yang tertutup baju rapat. Tidak ada tonjolan yang berarti hingga aku tak berani menduga ukuran buah dadanya. Malah kelihatan rata begitu.Ini bukan tipeku, karena aku suka dengan wanita dewasa yang berdada wah.
Rupanya Teh Ella sadar diperhatikan begitu rupa. Dia senyum. Aku pun membalasnya. Suasana jadi agak kikuk.
"oya, teteh mau pulangin BH ke Mama kamu,"katanya kemudian.
DIkeluarkannya beberapa BH dari dalam tasnya.
"INi kurang laku,jadi Teteh mau pulangin,"katanya.
Teh Ella sering mengambil barang dagangan dari Mama, pakaian dalam dari Mamaku untuk dijual kembali.
"KOk dipulangin Teh?"tanyaku penasaran.
"Iya kurang laku, karena ukurannya yang besar. Pelanggan Teteh beli yang ukurannya kecil,"sahutnya.
"O gitu ya,"kataku lagi.
Aku lantas mengambil salah satu BH berwarna hitam. Kuamati dengan seksama. "Ini ukuran berapa Teh?"
"Itu 36 C."
Aku lantas membayangkan betapa besar payudara yang bisa diselimuti oleh BH di depanku ini.
"Oh hampir lupa. Teteh ambil lagi satu deh."
"Lho katanya gak ada yang beli ukuran besar."
Teteh Ella senyum tipis. "Nggak. Yang ini buat Teteh kok."
Aku terperanjat.
"ohhh..."
"kenapa kok kamu kaget?"
"Nggak. Kaget aja. Teteh berarti besar dong ya?"
Teteh Ella mencubit pahaku.
"bagus yang mana ya?"tanyanya sendiri sambil memilih2 BH yang berwarna-warni.
"Yang hitam bagus Teh,"saranku.
"Hmmm...kamu suka yang hitam ya?"
"Iya..seksi aja modelnya."
"Ihhh...Teteh mah gak seksi. Dah tua."
"Gak kok...masih seksi...'
Teteh berdiri."Teteh numpang pake BH ini dong di kamar boleh kan?"
"silakan teh."

Aku melamun, membayangkan Teteh mencoba BH baru berwarna hitam di
kamar. Seandainya aku dibolehkan menyusul masuk...
"Yan...tolongin teteh dung."
Aku masuk dan minta dibantu pasang ristleting baju kurungnya. Saat itu kami saling berhadapan. Teteh Ella mengelus rambutku.Kemudian mengecup lembut bibirku.Aku terkesiap tapi cepat membalas.
Teteh Ella menaikkan wajahnya dan membiarkan aku menjilati lehernya yang jenjang. Ia menggelinjang geli.
Aku menurunkan wajahku ke bagian dadanya yang tertutup kain. Kurasakan gumpalan daging kenyal di sana.
Teh Ella mengerti. Ia kemudian melepas bajunya. Aku menunggu dengan berdebar. Betapa kagetnya aku melihat sepasang payudara dibungkus BH hitam.
"Teteh..gak sangka payudara Teteh besar banget..."
"Kamu suka?"
Aku mengangguk dengan polos.
Teh Ella membusungkan dadanya seolah mempersilakan aku menikmati keindahan payudara miliknya.
Mula-mula aku menciumi permukaan BH hitam itu.Mataku terpejam, menghayati aroma BH tersebut.Lalu, kukecup daging payudaranya yang menyembul sebagian.Terasa kenyal dan hangat.
Teh Ella mendesah lembut. Kepalaku ditekannya ke dalam dadanya. Aku terbenam dan mulai mencari2 putingnya.
"Sssttt....ohhhhh...enakkk sayangggg..."Teh Ella merintih nikmat.
Dengan cepat aku menarik keluar payudaranya dari dalam BHnya.Tapi
Teh Ella malah melepasnya sekalian.
Luar biasa. Buah dada itu besar bergelayut dengan indah. Bentuknya bulat dengan puting coklat muda.
Dengan tangannya Teh Ella menjulurkan sebelah payudaranya ke wajahku. "NIh hisap sayang...."
Lidahku bermain2 di putingnya. Kuhisap lembut, terus kugigit2 lembut. Tentu saja Teh Ella kegelian.

"Kamu suka banget yaa?"tanya Teh Ella sesaat setelah aku selesai bermain dengan sepasang payudaranya yang indah dan besar itu.
"Iya Teh..enak banget..puass...abis besar bangettt..."
"Tapi suami Teteh gak suka loh..dia suka yang kecil. Teteh puas banget kamu mau isep tetek teteh."
Kembali aku mengulum payudaranya. Memanjakan wanita dewasa yang cantik itu membuatku begitu terhanyut. Penisku di dalam jins semakin keras. Ingin meronta keluar. Untung Teh Ella mengerti. Dengan cepat ia melepas jins dan celana dalamku.
Penisku yang keras dan panjang digenggamnya dengan tangannya yang mungil.Dikocoknya dengan halus.
"INi besar banget..suami teteh kok kecil sih?"
Lantas, Teteh Ella mengulum kepala penisku dengan lembut. Adakanya dijilatinya batang penisku. Aku meronta kegelian, nikmat dan seperti melayang. BElum pernah ada wanita sehebat ini memanjakan penisku.
Teteh berdiri berhadapan dengan wajahku. Dia melumat bibirku dengan gemar. Semantara tangannya tetap meremas2 penisku. Aku membalas meremas2 teteknya yang besar itu.

Teh Ella melepas seluruh baju kurunya. Tampak Cd hitam mungil memabungkus selangkangannya yang membukit. Ia nungging di pinggir tempat tidur dan meminta aku melepas cd itu.

"teteh pantatnya besar banget,"pujiku.
"Iya..kamu suka kan?"

Di atas ranjang, kami bermain doggy style. Pantat Teh Ella yang besar itu kusodok dengan keras-keras. Berulang-ulang. Teh Ella menggerakkkan pantatnya dengan agresif.

"offffff...ssstttt...owww..."
Tiap kali penisku menusuk rongga miliknya ia menjerit. Aku semakin buas. Bahkan sambil menyodok, aku meraih payudaranya yang bergelayutan dan kuremas2 dengan gemas.

Setengah jamu kemudian, Teh Ella minta aku melepas sperma di mulutnya. Croott...crottt...spermaku dengan cepat menerobos mulutnya yang mungil. Ditelannya dan sebagian dijilatinya dari batang penisku yang perkasa.

Huda masih menyodok vaginaku dalam posisi Doggy Style, desahan-desahan kecil keluar dari mulutku yang sudah lemas ini. Tak lama Huda mempererat goyangannya dan mencengkeram pinggangku sambil memasukkan penisnya lebih dalam lagi.
"Engggh...." erangku pelan saat merasakan cairan sperma Huda yang hangat memenuhi liang senggamaku. Ini adalah pertama kalinya Huda menyetubuhiku. Dengan ini, berarti semua pria di kelasku sudah pernah menyetubuhiku, menikmati tubuh yang sehari-harinya kubungkus dengan jilbab dan pakaian layaknya akhwat yang lainnya.
Tubuhku tersungkur lemas di lantai kamar Yogi yang dilapisi karpet warna hijau, Huda mengambil tissue dan membersihkan ceceran sperma yang menetes di karpet. Malam ini aku terpaksa (lagi) menginap di rumah Yogi, orang tuanya sedang ke rumah neneknya, jadi dia hanya tinggal dengan adik laki-lakinya yang saat ini kelas 2 SMU. Yogi sendiri pernah mengajak adiknya menyetubuhiku bergantian.
Kupaksakan kaki yang masih lemas untuk mengenakan kembali pakaian dan jilbabku, lalu keluar ke kamar mandi untuk mencuci tubuh, seusai mandi aku meminum pil anti hamil, seperti malam-malam sebelumnya. Sebelum aq terlelap dalam tidur, Yogi sempat mengingatkan tentang camping bersama yang akan diadakan 2 hari dari sekarang, bersama anak-anak kelas C. Hanya 2 gadis dari kelas B yang diajak yaitu aku dan Yungky (yang juga telah menjadi budak seks mereka), jadi aku tahu sekali kalau aku akan jadi bahan pertukaran antar kelas.
Catur membawakan tas punggungku dan menaruhnya ke dalam bak truk tentara yang akan menjadi sarana transportasi kita ke Malang. Sebenarnya tidak perlu menyewa truk, toh ini hanya camping biasa, bukan OSPEK. Anak-anak kelas C sibuk menaruh barang mereka di truk masing-masing, begitu pula kami. Siswa kelas C ada 55 orang, tapi yang saat ini ikut camping hanya sekitar 20 orang, 15 cowok dan 5 cewek. Sedangkan seluruh cowok kelas kami (kelas B) yang berjumlah 25 orang ikut semua, yang cewek hanya 4 orang, aku, Yungky, Adhelia dari kelas E dan Poppy dari kelas F. Entah bagaimana, tapi sepertinya Taufik dkk telah berhasil membuat mereka berdua menjadi budak seks juga.
Diantara pria kelas C ada seseorang yang bernama Agung, yang sering digosipkan menaruh hati padaku, setiap aku melewati kerumunan anak-anak kelas C pasti mereka menyebut nama Agung keras-keras. Dan sepertinya sebentar lagi dia akan ikut menikmati tubuhku.
"Oke Aida, Adhel ama Yungky ikut truk anak kelas C" komando Taufik. Aku sempat protes tapi mereka tidak peduli, sebagai gantinya, 4 cewek kelas C ikut truk kelas B. sepertinya mereka mau meraba-raba tubuh kami di sepanjang perjalanan nanti.
Walhasil aku sekarang duduk diantara cowok-cowok kelas C yang saat membantuku naik ke truk tadi dengan sengaja menyentuh-nyentuh pantatku. Dan dengan sengaja juga mereka mendudukkanku di sebelah Agung sambil dari tadi menggodaku.
Truk berjalan, makan waktu 3 jam untuk sampai di lokasi camping di Malang, aku dan Agung hanya mengobrol saja. Lalu Agung mulai memberanikan diri memegang tanganku, aku diam saja, Agung terlihat sangat kikuk. Yang lain mulai menyoraki Agung agar bertindak lebih jauh, Agung semakin bingung dan salah tingkah. Tidak sabar melihat sikap Agung, Anton, ketua kelas C menghampiriku dan menarik tanganku sehingga aku berdiri.
"begini loh Gung!" ujar Anton sambil mendekap tubuhku dari belakang, tangan kanannya meremas-remas buah dadaku yang masih tertutup pakaian terusan. "nih, terus diginiin" katanya sambil meletakkan tangan kirinya tepat di selangkanganku, lalu mulai menggerak-gerakkan jarinya dari luar rokku. Tak perlu waktu lama bagi libidoku untuk naik, aku memang paling tidak tahan bila daerah selangkangku dipermainkan. Apalagi saat itu semua mata di truk memandang ke arahku, secara refleks aku mengeluarkan desahan halus tanda kenikmatan. Tiba-tiba Anton menghentikan aktifitasnya dan mendorongku jatuh ke pangkuan si Agung. "tuh! Gituin! Cepetan! Yang lain juga pengin!" ujar Anton sambil kembali duduk di tempatnya.
Aku kini duduk di pangkuan Agung, penisnya yang sudah tegang terasa sekali menonjol menyentuh pantatku. Tanpa banyak bicara dia meremas payudaraku dari luar, akupun menjatuhkan tubuhku pasrah dipangkuannya. Tidak perlu waktu lama bagi tangannya untuk menyentuh dan membuka kancing depan bajuku dan dalam sebentar saja tangannya sudah menelusup ke balik BHku, meremas dan memain-mainkan putingku yang sudah dari tadi mengeras. Aku memalingkan wajahku ke belakang dan bibir kamipun berpagutan, kecupan-kecupan berubah menjadi hisapan-hisapan sebelum akhirnya menjadi sapuan-sapuan lidah yang sangat menggebu-gebu. Tangan kanannya masih aktif dengan payudara kiriku sedang entah sejak kapan, tangan kirinya telah bermain menusuk-nusuk selangkanganku. Aku menjadi sangat horny, aku tidak tinggal diam, tangan kiriku meremas-remas tonjolan di celananya, tampaknya dia sangat menikmatinya.
Aku sudah tidak tahan lagi, biasanya kalau sudah begini cowok di kelasku pasti sudah menyodorkan penisnya untuk ku oral. Tapi Agung tampak sangat polos.
"Aku oral ya?" akhirnya aku tidak tahan untuk tidak memintanya, Agung melepas pelukannya, aku berdiri lalu berlutut di dekat selangkangannya, dan mulai membuka resleting celananya. Di sisi lain truk terdenga desahan keras, begitu kutoleh ternyata Adhelia dan Yungky sudah mulai dipakai bersamaan. Aku jadi semakin horny, begitu penis Agung yang lumayan panjang dan kurus itu keluar dari celananya aku segera mengocok dan memasukkannya ke dalam mulutku, kuhisap dan kukeluar-masukkan ke dalam mulutku dengan cepat, diiringi sapuan lidah dan ludaku, Agung mengerang keenakan sambil nafasnya terus memburu. Akhirnya setelah beberapa menit mengoral, Agung berdiri dan merebahkan tubuhku di kursi.
"aku nggak tahan Da, aku pakai kamu sekarang..." ujarnya dengan nafas tak teratur sambil tangannya menggulung rokku hingga ke pinggang, dan langsung melucuti celana dalamku, dia membuka celana dan celana dalamnya, lalu membimbing penisnya ke vaginaku yg sudah lumayan basah.
Dalam hitungan detik dia menusukkan penisnya, tubuhku menggelinjang sambil mendesah keras, detik berikutnya, dia mengeluar-masukkan penisnya dengan berirama dan sangat cepat, membuat erangan dan desahanku semakin cepat juga.
"akh akh ukh akh a...gung.. akh aaah... ssshh..." desahku mengimbangi goyangannya yang semakin cepat.
"uuuh... Da... memekmu enak banget... ah... ah... nikmat..." ceracaunya sambil menggenjotku lebih kencang dan dalam, aku semakin menggeliat-geliat, desahanku jadi berubah menjadi sedikit berteriak. Luar biasa sekali, Agung mampu mempertahankan bahkan menambah kecepatan genjotannya dalam waktu cukup lama, kira-kira 15 menit, biasanya cowok-cowok kelasku sudah mulai tidak teratur irama genjotannya pada waktu segitu. Agung meletakkan kedua tangannya ke payudaraku yang berayun, menjadikan mereka daya tumpu genjotannya.
"Aw...akh akh akh uh akh ah ahaaa ahaa akh..." desahku semakin kencang, aku hampir saja orgasme ketika kurasa Agung menghentikan genjotannya dan melesakkan penisnya lebih dalam.
"Ahhak...akh..." desisku saat penisnya menancap sangat dalam dan memuntahkan cairan hangatnya di rahimku. Sial pikirku, padahal aku hampir saja orgasme.
Melihat Agung telah mencapai ejakulasi, Anton (yang ternyata dari tadi memperhatikan) bergegas menarik tubuh Agung ke belakang. "Minggir loe! Lama amat dari tadi" katanya sambil menjauhkan Agung dariku. Tanpa banyak kata Anton mendekatiku dan melepas celana serta celana jeansnya. Penisnya yang kepalanya cukup besar di pegangnya dengan tangan kanan. Anton mengangkat kedua kakiku dan meregangkannya, hingga vaginaku yang sudah bercampur dengan cairan Anton terpampang jelas. Detik berikutnya aku mengerang saat kepala penisnya mulai memasuki liang kewanitaanku.
"augghm... ehm..." desahku. Anton menekan terus penisnya hingga seluruh batangnya tertanam di vaginaku.
"gila... bener-bener enak... hebat kamu Da" puji Anton sambil mulai menggenjotku.
"aah...akh..akh ekhm..uukh..hhh...sshhh" ceracauku saat penisnya keluar masuk dengan cepat. "augh..ugh...ugh..." jeritanku semakin kencang, begitu pula genjotan Anton. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali larut dalam permainan seks, karena tadi aku sudah hampir orgasme.
Wawan dan Satria bergerak menghampiri tubuhku yang sedang digenjot oleh Anton. Di tengah-tengah desahanku, dengan santai mereka membantuku duduk dan melepaskan semua kancing baju depanku lalu melucutinya diikuti BHku. Sementara Anton tidak menghentikan aksinya sama sekali, membuat tubuhku sedikit terlonjak-lonjak.
"jilbabnya biarin aja" ujar Satria. "jadi lebih hot".
Tubuhku direbahkan kembali, aku hanya menurut karena tubuhku memang sudah terasa sangat lemas. Sementara Anton semakin memasuk-masukkan penisnya semakin dalam, membuatku mengeluarkan teriakan-teriakan kecil.
Tidak lama kemudian Satria sudah menyodorkan penisnya ke mulutku, dan memasukkannya. Sambil menikmati genjotan Anton, aku mengulum, menghisap, dan menyapu batang penis Satria sampai Satria mengerang-erang kenikmatan.
"Hmph! Hmph slurp slurp ehkmm..." tubuhku mengejang keras. Aku orgasme, Satria dan Anton menghentikan gerakan mereka ketika tahu aku mencapai orgasme. Setelah beberapa detik mengejang, aku kembali lemas. Anton mencabut penisnya lalu memberi isyarat pada Satria agar minggir. Begitu Satria minggir, Anton membalikkan tubuhku yang benar-benar sudah lemas, dan menarik pantatku, aku tahu yang dia inginkan, doggy style...
Anton di belakang dan Satria di depan, dengan kedua tanganku bertumpu pada paha Satria Anton mengobok-obok vaginaku lagi. Dipegangnya pinggulku kencang, lalu digerakk-gerakkannya dengan cepat, kembali jeritan-jeritan kecil keluar dari mulutku. Tapi jeritanku tidak lama, karena setelah itu, Satria yang penisnya tepat di wajahku, menarik kepalaku dan mengarahkan penisnya ke mulutku.
Anton menggoyangku maju-mundur, dan itu membuat penis Satria terkocok oleh mulutku. Dan semakin kencang genjotannya, semakin cepat juga penis satria terkcok. Benar saja, tidak sampai 2 menit kemudian, Satria mencengkeram kepalaku yang masih tertutup jilbab dan mengeluarkan spermanya ke dalam tenggorokanku. Aku mencoba menelan semuanya, tapi sebagian spermanya masih menetes ke jilbabku. Satria mencabut penisnya dan duduk tidak jauh dengan wajah penuh kepuasan. Wawan menggantikan posisinya, sambil meremas-remas buah dadaku, dia memasukkan penisnya ke mulutku.
Sementara di belakang, Anton mencengkeram dan menguatkan pegangannya pada pinggulku, membuat gerakannya semakin kencang dan dalam, Rintihan dan jeritanku tertahan oleh penis Wawan. Kemaluanku terasa perih bercampur nikmat, Anton menunggangiku dengan kasar sekali, sepertinya dia menumpahkan semua nafsu birahinya padaku. Sampai akhirnya tubuhnya mengejang, dibenamkannya penisnya ke vaginaku sedalam dia mampu, dan dapat aku rasakan dia menyemburkan spermanya kedalam rahimku. Sesaat ketika Anton terdiam dan menikmati ejakulasinya, Wawan mendorong kepalaku hingga penisnya terkocok mulutku. Aku menggunakan lidahku, dan tampaknya dia keenakan.
Akhirnya Anton mencabut penisnya.
"Dasar pelacur!" katanya sambil memukul pantatku, aku sudah tidak peduli lagi, kata-kata itu sudah sering aku dengar. Wawan mencabut penisnya, menekan pinggulku dan memasukkan penisnya ke vaginaku, masih dalam doggy style. Aku sendiri sudah sangat lemas, tubuhku aku biarkan terkulai di bangku truk, sementara Wawan terus menunggangiku, mencari kenikmatannya sendiri. Desahan dan desisanku sudah sangat lemas, meski masih jelas terdengar.
Wawan menumpahkan spermanya diwajahku, bukan mulutku, tapi wajahku, sehingga jilbabku jadi belepotan terkena spermanya. Cairan kental itu berceceran di hidung, pipi dan mataku. Setelah mengeluarkan semua spermanya, dia menggesek-gesekkan penisnya ke bibirku. Dan sebelum pergi, Wawan meremas payudaraku kencang sekali sampai aku meringis kesakitan.
Aku lemas dan tebaring beberapa saat, sebelum akhirnya aku memaksakan diri mengambil tissue basah di tasku, lalu membersihkan sperma Wawan di wajahku, dan juga di kemaluanku. Setelah itu, aku mengenakan pakaian lengkapku lagi. Di sepanjang sisa jalan, aku diapit oleh tiga orang, Rio, Aris dan Nanang, Rio menarikku dipangkuannya dan menikmati payudaraku dari luar, sampai pakaian yang aku kenakan jadi kusut. Sementara Aris dan Nanang bergantian memacu penisnya dimulutku. Mereka tidak menunggangiku karena waktu yang tidak memungkinkan. Hanya Nanang yang sempat berejakulasi di dalam mulutku, Aris tidak. Setengah jam kemudian kami tiba di bumi perkemahan Malang, tempat pesta seks kami berikutnya.

Blog, Updated at: 05.57

0 komentar:

Posting Komentar

Paling Populer

Daftar isi