Cerita panas - Inisiasi


Weekend segera datang. Sudah jam 16:00, dan kantor sudah sepi dari nasabah. Setelah merapikan logbook dan membuat weekly sumary, maka kantor bisa ditutup. Walau tak ada rencana untuk dating tapi rasa senang selalu datang diakhir minggu. Sejenak bisa terbebas dari penat pekerjaan.

“Aku pulang duluan ya, Tik.” suara Mbak Nur di depan pintu.
“Iya, Mbak. Saya masih tanggung nih”. aku menjawab pamitnya dengan aku tambah senyum.

Tinggal aku dan Pak Ipin, security Bank, di kantor ***** Sebenarnya dia bernama Arifin. Baru belakangan sejak trend film animasi dari negeri jiran itu, lalu dia dipanggil Ipin. Pak Ipin orangnya baik dan ramah, standar scurity Bank lah. Entah bagaimana shiftnya diatur, tapi setiap akhir minggu dia selalu piket sampai malem. Mungkin juga karena partnernya masih bujangan, jadi mereka saling pengertian.


“huft... beres juga akhirnya”. Gumamku sambil menghela nafas lega dan tersenyum puas.

Pekerjaan sudah selesai, dan waktu memanjakan diri telah datang. Aku segera merapikan alat tulis di meja costemer service. Memasukkan alat tulis dan tupperwere tempat minumku ke dalam tas.

“Sedah selesai, Neng Tika? Mau pulang sekarang?” tanya Pak Ipin.
“Sudah. Ya pasti saya langsung pulang lah , Pak. Lagian Boss juga sudah pulang dari tadi. Hehehe...” aku jawab dengan ceria.
“Mau pulang ke Banjarnegara sekalian?”
“Ah, enggak deh kayaknya. Kan baru minggu kemaren aku pulang kampung. Paling cuma di Mess aja. Pak Ipin piket lagi?” lanjutku.
“Iya, Neng. Biar si Ujang bisa ngapel. Ya saya kan juga pernah seumuran Ujang. Tau rasanya perjuangan buat pacar. Hehehe..” jawab Pak Ipin sambil tertawa lepas.
“Hemm... gitu ya. Ya udah aku pulang ke mess dulu ya Pak. Aku udah siapin kopi dan mie instant di locker untuk piket malam nanti dan besok.”
“Iya, Neng. Terimakasih.”

Aku lalu keluar kantorku yang merupakan Koperasi Simpan Pinjam. Sebenernya dulu bernama BPR tapi karena masalah perijinan dan peraturan baru, akhirnya menjadi KSP. Koperasi tempatku bekerja ini bukanlah koperasi kecil. Di kota ini sudah punya cabang hampir di setiap pasar. Perputaran uangnya juga cepat. Karyawan seperti aku yang baru 2 tahun bekerja saja, sebulan bisa mendapat upah 5juta, take home pay.

Aku adalah gadis yang baru berusaha merintis karir. Baru dua tahun lalu aku lulus dari bangku kuliah. Sebelum wisuda, kebetulan ada recruitment di kampus dari koperasi. Setelah aku dinyatakan diterima, otomatis setelah wisuda aku langsung bekerja dengan status probation sampai tiga bulan. Jadi aku tidak sempat menganggur menunggu panggilan kerja seperti beberapa temanku. Di koperasi ini aku ditempatkan di kantor induk. Dengan posisiku sebagai verificator, aku mendapat fasilitas mess yang letaknya di belakang kantor persis, hanya terpisah pagar setinggi dua meter.

Sebenarnya aku tidak sendirian dari kampus dulu. Aku senasib dengan Rina, sahabatku. Kami satu kelas. Bersama mengikuti recruitment, dan sama-sama diterima. Bedanya, Rina sekarang ditempatkan di unit pasar induk, sedangkan aku di kantor pusat. Kami bersahabat sejak awal kuliah. Bahkan selama 4 tahun kami tinggal satu kos dan sekarang tinggal satu mess. Rina adalah gadis yang menarik dan supel. Dia pandai bergaul dan ramah. Sudah tentu banyak cowok yang mencoba mendekatinya. Namun demikian, dia setia dengan pacarnya.

“Ah, tenyata hujan belum reda.” aku menggerutu sambil berjalan di teras kantor.

Aku buka tas, dan ku ambil patung lipat yang selalu aku bawa sejak musim hujan ini datang. Aku berjalan keluar halaman dan berbelok ke gang disebelah kantor menuju ke mess. Setelah tiba di mess, aku lihat Toyota Hardtop hijau terparkir.

“Pasti Dony lagi ngapelin Rina.” batinku.

“Baru pulang,Tik?” Mas Dony duluan menyapaku.
“Iya, Mas. Kok di teras sendirian? Rina mana?”
“Eum.. maksudku mau memberi kejutan, tapi ternyata Rina belum pulang. Hpnya aku hubungi juga tidak aktif.”
“Oh.. ayo masuk dulu. Tungguin di dalam aja.” Aku berjabat tangan dengan Mas Dony dan membukakan pintu mess.

Mas Dony adalah karyawan tambang. Dia kerja di pengeboran minyak lepas pantai. Biasanya trip kerjanya dua minggu kerja, dan dua minggu off duty. Rina sudah berpacaran dengannya sekitar tiga tahun. Pernah putus sebentar, tapi nyambung lagi sampai sekarang. Kadang mereka pacaran di mess. Bahkan Mas Dony pernah dua kali tidur di mess. Mereka tidur di kamar Rina, sampai aku dengar suara-suara mesra. Yah, mereka sudah dewasa, biarlah.

“Silahkan duduk, Mas. Aku buatin minum dulu.”
“Iya. Nggak usah repot-repot, Tik.”
“Ah, nggak repot kok. Aku bawa jahe wangi dari kampung kemarin. Lumayan untuk mengusir dingin Mas. Lagian Mas Dony dari tadi menunggu di teras pas hujan g*****” Jawabku sambil berlalu ke kamar dan kemudian menuju dapur.

Sedikit aku lirik ke ruang tamu, Mas Dony terlihat sibuk memainkan Hpnya. Wajahnya tampak serius. Entah apa yang sedang ditulis dengan keypadnya itu.

“Silahkan diminum Mas. Wedang jahe wangi dengan gula merah, buatan Tika” selorohku sok ramah.
“Wah, terimakasih ya Tik. Berasa di kampung nih. Dulu kalo gantiin Bapak ronda, selalu ditemani minuman *****” Jawab Mas Dony sambil menyeruput minuman buatanku.

“Rina udah coba ditelpon lagi, Mas?” aku mencoba memastikan.
“Hmm.. barusan Rina bales SMS ku yang tadi. Katanya dia ga pulang ke sini, lagi di tempat Budhenya. Lagi ada pertemuan keluarga besar, penting katanya.” Jawab Mas Dony dengan raut muka kecewa.
“Kok Rina ga kasih tau aku ya, Mas?
“Kamu yakin? Tadi di SMSnya dia bilang udah kasih tau kamu. Coba deh dicek dulu HPmu.”
“emm, mungkin juga Mas. Masalahnya dari siang HP ku aku taroh di tas, dan belom aku buka. Maklum, akhir minggu kantor selalu sibuk.” Jawabku dengan sedikit malu.

Kami lalu ngobrol panjang. Sengaja aku cegah Mas Dony ketika mau pamit. Sekalian nunggu hujan reda saranku. Aku dengar cerita tentang kisah cinta mereka sejak awalnya. Hampir sama dengan yang sering diungkapkan Rina saat curhat denganku. Masing-Masing mempunyai subjektifitas, pikirku. Kami juga melihat album foto masa-masa kuliahku dulu. Banyak foto narsis aku dan Tika, yang membuat kami tak henti tertawa lepas.

Sejak melihat foto-foto itu kami jadi duduk bersebelahan, bahkan rapat. Bahu kami saling menempel. Demikian juga dengan kaki kami. Entah sekedar terbawa suasana atau apa, aku nggak tau, tapi aku merasa nyaman sekali sore ini di dekat Mas Dony. Tiba-tiba, aku rasakan lengan kiri Mas Dony sudah melingkar di pundakku, dan akupun menyandarkan kepalaku ke bahu Mas Dony. Nyaman sekali rasanya.

Sesaat setelah itu, entah siapa yang menggerakkan tanganku, tida-tiba tangan kananku membelai pipi Mas Dony dari depan badannya. Aku Masih asik menatap foto-foto di album itu. Kemudian aku rasakan kecupan hangat di keningku. Jantungku berdegup kencang sekali. Badanku menjadi lemas. Baru sekali ini aku dicium laki-laki. Aku memang tidak pernah pacaran, karena ajaran dari orang tua yang aku pegang teguh. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Mataku terpejam dan wajahku masih menunduk. Aku takut mengangkat mukaku, tapi tanpa sadar tangan kananku menyusup kebelakang tubuh Mas Dony dan kemudian melingkar erat di pinggangnya. Lalu tangan kanan Mas Dony mengangkat daguku. Membuat kami saling bertatapan dengan jarak kurang dari lima centi. Aku tak mampu menatap, mataku sayu kemudian tertutup. Dadaku belum reda bergemuruh, tiba-tiba aku rasakan kecupan hangat mendarat di bibirku.

“Hmm.” Hanya itu yang terdengan dari mulutku.

Mas Dony melumat bibirku, dan aku semakin tidak tahu harus bagaimana. Seluruh badanku semakin lemas, tapi tanganku semakin erat merengkuh tubuh Mas Dony. Nafasku memburu, dan tiba-tiba Mas Dony melepas ciumannya.

“Tika, kamu cantik Sayang.” Pelan suara Mas Dony.

Aku hanya bisa menatap sayu dengan nafas yang tidak teratur. Lalu aku pejamkan mataku lagi dan memajukan bibirku, ketika wajah Mas Dony mendekat. Aku sekarang membalas ciumannya. Kami saling berpagutan. Lidah Mas Dony menyusup ke mulutku. Menyentuh langit-langit mulut dan seolah ingin mengaitkannya dengan lidahku.

“Emph..hmm..” semakin sering suara itu keluar dari mulutku bersama dengan nafasku yang semakin berat.

Mas Dony mengendorkan pelukannya dan menurunkan letak tangannya. Dia mulai membelai punggunggu sambil terus menghisap-hisap lidah dan bibirku. Setelah sampai pinggang, tangannya naik lagi, tapi melalui bagian depan badanku. Kemudian tangan yang kekar itu sampai di dadaku. Mengusap lembut, dan menyingkap blazer seragamku. Aku semakin tak kuasa dihujani rangsangan bertubi-tubi, yang belum pernah aku rasakan sekalipun.

Ciuman Mas Dony mulai turun ke leher putihku yang jenjang, dan tangannya mulai meremas buah dadaku dari luar baju. Aku menggelinjang nikmat. Tangan Mas Dony semakin kuat meremas seolah gemas, karena tak cukup jemarinya menjangkau seluruh buah dadaku yang sekal. Aku hanya bisa mendesah dan memeluk erat.

Sesaat kemudian, tangan Mas Dony menyusup kedalam bajuku dan tangsung meraih buah dadaku dibalik penopangnya. Putingku dipilin-pilin. Aku semakin marasa nikmat. Aku balas mengecup lehernya. Kemudian berbisik.

“Aku sayang kamu, Mas.”

Mas Dony melepaskan ciumannya yang sudah sampai di telingaku, lalu kembali melumat bibirku. Aku semakin lupa daratan. Tangan Mas Dony meninggalkan dadaku, dan turun ke lututku sambil menyingkap rok span biru seragamku. Seluruh tubuhku merinding, ketika tangan itu membelai lembut pahaku.

Aku langsung melepas pelukanku dan mencoba bergeser melepas pelukan Mas Dony juga.

“Kenapa Tik.” Mas Dony bertanya dengan kaget.

Aku tudak menjawab. Hanya meraih tangannya dan menuntunnya ke kamar. Aku berbalik untuk mengunci pintu kamarku, lalu tangan Mas Dony langsung melingkar ditubuhku dari belakang. Diraihnya buah dadaku. Aku tersentak ke belakang dan bibirku langsung bertemu dengan bibirnya. Sambil berciuman, Mas Dony menyeretku sampai kita rebah di ranjang. Kita berciuman sampai berguling-guling saling tindih.

Seragamku satu-persatu mulai lepas dari tubuhku, demikian juga dengan pakaian Mas Dony. Baru pertama kali ini aku telanjang di depan orang lain, dan melihat orang lain telanjang. Penis yang pertama kali aku lihat, sangat besar bagiku. Aku hanya pernah melihat gambar saat pelajaran biologi di kelas 3 SMA. Panjang penis Mas Dony aku taksir sekitar 19cm dan diameter 3cm. Merinding aku melihatnya.

Setiap inchi tubuhku tak luput dari ciumannya. Kepalaku tertoleh ke kiri dan kanan sambil menggeliat nikmat. Sampai ketika bibir Mas Dony menyibakkan bulu kemaluanku dan mencium memek ku yang kulihat warnanya lebih merah dari biasanya. Ternyata memekku sangat basah. Aku hanya bisa melihat sesaat lalu terpejam kembali, hanyut dalam kenikmatan. Tubuhku serasa disengat listrik ketika lidah Mas Dony menjilat klitorisku. Aku semakin mendesah nikmat.

“Ach,,,ah,,,, Mas....”

Baru sekitar lima menit Mas Dony menjilati klotorisku sambil tangannya memainkan putingku, aku merasakan getaran hebat. Luar biasa nikmatnya. Aku berteriak semakin keras, dan pahaku menjepit kepala Mas Dony. Tanganku menggapai-gapai tepian ranjang.

“Ach..ah...Mas... Aku.. cinta.. kamu, Mas... Aaahh...” aku berteriak keras ketika getaran kenikmatan itu memuncak dan kemudian mereda.

Mas Dony Masih asik menjilati cairan yang keluar dari memeku sampai bersih. Aku merasa geli, sampai aku dorong kepala Mas Dony menjauh dari memekku. Mas Dony tak berhenti. Kini dia memelukku dan mengecup mesra bibirku. Membuatku kembali terlena, menikmati sisa-sia puncak kenikmatan yang baru saja diberikan Mas Dony.

Mas Dony melepas kecupannya dan bertanya,
“Gimana rasanya Sayang?”
“ehm.. nikmat banget Mas. Baru kali ini aku merasakan seperti ***** Terimakasih ya Mas”

Kami kembali berciuman sebentar.

“Tika tadi bilang cinta sama aku ya?” tanya Mas Dony membuatku tersipu.
Aku tak mampu menjawab.
“Kalau Tika memang cinta dengan aku, mau dong bikin aku merasakan nimat seperti Tika” lanjutnya.

Aku baru sadar, penis Mas Dony Masih mengganjal keras di perutku.
“Aku belum pernah melakukannya, Mas.” Jawabku dengan bingung.
Mas Dony tersenyum.
“Tika, Masih pingin jaga keperawanan ya?” tanya Mas Dony lagi dengan tetap tersenyum penuh pengertian.
Aku kembali tak bisa berkata-kata, diantara nafsu dan keperawananku.
“Kita tidak harus intercourse kok.” Lanjut Mas Dony.
“Tika mesti gimana, Mas?” akhirnya aku berani bersuara.
“Mainin aja penisku. Tika mau kan?” Mas Dony menegaskan.
“emm.. Kalau Mas Dony pingin keperawanan Tika, Tika rela kok.” Aku tak tahan melihat Mas Dony seperti itu.

Setelah menghela nafas panjang, Mas Dony merebahkan tubuhnya kesamping dan menuntun tanganku ke penisnya.

“Nggak apa-apa Tika. Mas juga sayang Tika kok.”

Aku kemudian memainkan tanganku di penis Mas Dony yang besar dan panjang itu. Tentunya dengan bimbingan Mas Dony. Dimintanya aku meludahi penisnya, dan memang gerakan tanganku menjadi lebih lancar. Mas Dony mulai mengerang nikmat dan menarik tubuhku sampai kami berciuman lagi dengan penuh nafsu.

“Aahh... tanganmu lembut banget, Sanyang.” Bisik Mas Dony sambil meremasi buah dadaku.
Lalu tangan Mas Dony meluncur ke selangkangku, dan kembali mengusap-usap memekku. Aku kembali merasakan memekku basah ketika jari tengah Mas Dony memainkan klitorisku.

“Aaaah... nikmat Mas.”
“Iya.. Sayang... Mas juga nikmat.”
Hanya sekitar 15 menit aku kembali merasakan getaran hebat dalam tubuhku.

“Mas,,,, Tika... hampir... aaaahh..” aku tak mampu menahan desakan getaran dalam tubuhku. Aku mengejang lagi, dan kembali samapi di puncak kenikmatan.

“Tika,,,, Tika,,,,” erangan Mas Dony semakin keras, karena dengan tak sadar kocokanku pada penisnya juga semakin kencang bersamaan orgasmeku tadi.

“Aaaah...” teriakan pamungkas Mas Dony dibarengi muncratnya cairan putih dari lubang penisnya. Cairan kental itu menyembur sampai ke buah dada dan perutku.

Mas Dony kemudian berusaha melepaskan genggamanku dari penisnya yang beringsut melemas.

“Terimakasih ya Sayang”
“Terimakasih juga, Mas. Aku sampe muncak lagi”

Kemudian kami berciuman, dan berpelukan dengan penuh kehangatan. Aku bersihkan tubuhku dari sperma Mas Dony dengan sprei yang sudah acak-acakan. Sekali lagi Mas Dony mengecupku sambil bangkit menuju kamar mandi.

Sore itu, menjadi pengalaman pertamaku dalam cinta. Mas Dony sebenarnya berniat untuk tidur di mess, namun karena sudah melihat dua kali Pak Ipin keliling memeriksa keamanan, maka diurungkan niatnya. Mas Dony pamit setelah makan nasi goreng buatanku. Kami sempatkan lagi berciuman sambil berpelukan erat di pintu mess sebelum Mas Dony pergi.

Blog, Updated at: 14.06

0 komentar:

Posting Komentar

Paling Populer

Daftar isi